Status

Pindah ke Artikel

Filter Inspirasi

Inspirasi Desain

Ruang Keluarga
Ruang Tamu
Dapur
Ruang Makan
Kamar
Kamar Mandi & Service Area
Carport
Taman

Inspirasi Konstruksi

Desain Arsitektur
Proses Konstruksi
Pembiyaan
Material Bangun

Ruang Keluarga

Rumah & Keluarga
Aktivitas Keluarga
Keluarga & Budaya
Kreasi Keluarga
Reset

Master Ali

10 Jun 2020

Ruang Keluarga - Keluarga & Budaya

Hubungan Kondisi Psikologi dengan Desain Rumah, Ini Penjelasannya





Rumah yang indah dibuat bukan semata-mata untuk menyenangkan pandang mata, tetapi juga berpengaruh pada kondisi psikologis. Rumah yang indah tentu akan membuat suasana hati penghuninya menjadi tenang dan tentram. Apalagi jika didukung dengan merawat kebersihan dan kerapian rumah secara rutin, anggota keluarga akan lebih betah berada di rumah.

Sebaliknya, rumah yang berantakan menjadi salah satu indikator adanya gangguan psikologis pada penghuninya, stres misalnya. Oleh karena itu, membangun rumah yang nyaman, secara tidak langsung akan memperbaiki kondisi psikologis seseorang.

Tata desain interior rumah maupun eksterior sangat berperan dalam pembentukan karakter maupun representasi kondisi psikologis seseorang. Lebih detail, akan dijelaskan pada poin-poin di bawah.

Pengaruh pada Karakter

Desain rumah rancangan arsitek akan menjadi faktor penting dalam membentuk pribadi penghuni rumahnya. Hal ini dapat dianalogikan dengan ayam yang dilepaskan dari kandang setiap hari akan memiliki kemampuan survive lebih baik daripada ayam yang dikurung dan diberi makan rutin setiap hari. 

Dari analogi tersebut dapat disimpulkan bahwa secara langsung maupun tidak langsung, desain rumah akan mempengaruhi perubahan karakter individu. Oleh karenanya, arsitek harus cermat dalam menilik karakter dari calon pemilik rumah, sehingga rumah bikinannya dapat memberi dampak positif bagi penghuninya.

Selain itu, penataan furnitur juga mencerminkan pribadi penghuni rumah. Rumah dengan furnitur yang tidak terlalu beragam dan cenderung secukupnya, mencerminkan pemiliknya adalah seseorang yang simpel, sederhana, dan menyukai hal-hal kecil.

Namun, jika terlihat di dalam rumah terdapat bermacam-macam furnitur atau dekorasi yang bervariasi, dapat diasumsikan pemiliknya merupakan orang yang ambisius, tidak cepat berpuas diri, dan ingin mendapat pengakuan. Namun penentuan karakter tidak hanya dilihat dari satu sisi saja, tetapi banyak hal.

Psikologi Warna

Pemilihan warna pada setiap bagian rumah, selain bisa mengacu pada selera, namun juga bisa menyesuaikan dengan pendapat umum para ahli. Opsi warna cat yang digunakan bukan hanya untuk keindahan semata, tetapi juga berpengaruh pada psikologis dan emosi orang yang ada di dalamnya.

Pemaknaan tentang warna dan hubungannya dengan psikologi sebenarnya sudah pernah diteliti sejak dulu. Lois B. Wexner (1954) pernah melakukan penelitian tentang hubungan antara warna dengan suasana hati. Penelitian lain dilakukan oleh psikolog Amerika Frank H. Mahnke (1996), ia pernah memimpin eksperimen tentang keterkaitan warna dengan emosi (UK Essays Film Studies: 2015).

Dari segi suasana yang ditimbulkan, warna dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu warna hangat dan warna dingin. Warna hangat sangat dekat hubungannya dengan warna matahari, yaitu merah, oranye, emas, dan coklat. Seperti penamaannya, warna hangat dapat menimbulkan kehangatan dan keakraban.

Warna-warna hangat cenderung digunakan untuk ruang tamu dan ruang keluarga karena dapat merangsang dorongan penghuni rumah untuk berkumpul dan bercengkerama.

Sedangkan warna dingin memberikan kesan bersih, tenang, dan bijaksana. Warna yang tergolong dingin antara lain biru muda, hijau, dan ungu. Warna dingin cenderung lebih cocok diterapkan pada ruang tidur karena dapat memiliki efek menenangkan dan membuat Anda menjadi lebih rileks.

Rumah yang Berantakan

Selain tidak nyaman dipandang, kondisi rumah yang berantakan juga menggambarkan kondisi penghuninya yang sedang kacau. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Profesor psikologi Universitas DePaul Chichago Joseph Ferrari yang menyatakan bahwa keadaan rumah yang berantakan dan tidak teratur menjadi salah satu gejala Clutter atau kekacauan yang menimpa penghuni rumah.

Menurut Ferrari, gangguan ini disebabkan oleh ikatan yang terlalu dekat antara individu dengan barang kesukaannya. Sehingga meskipun barangnya sudah rusak, ia tidak tega untuk membuangnya. Itulah yang menyebabkan barang-barang di rumah menjadi berantakan dan tidak tertata.

Kesesakan dan Stress

Ukuran rumah yang sempit akan mengurangi ruang gerak penghuninya dan mengurangi kenyamanan. Ketidaknyaman itulah yang semakin lama dapat meningkatkan tingkat stres seseorang. Hal ini sudah banyak dibuktikan dari penelitian yang dilakukan oleh berbagai ahli. 

Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Baum dan Valins (1979) yang menyimpulkan bahwa ada hubungan positif antara kepadatan dan kesesakan dengan patologi sosial dan tingkat stres pada individu penghuni rumah.

Artikel terkait

Filter Artikel

Inspirasi Desain

Ruang Keluarga
Ruang Tamu
Dapur
Ruang Makan
Kamar
Kamar Mandi & Service Area
Carport
Taman

Inspirasi Konstruksi

Desain Arsitektur
Proses Konstruksi
Pembiyaan
Material Bangun

Ruang Keluarga

Rumah & Keluarga
Aktivitas Keluarga
Keluarga & Budaya
Kreasi Keluarga
Reset
Link disalin